PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Seni dalam Islam
Oleh
kelompok V:
1.
Aluh Silva Iswari (J1B014)
2.
Muhammad Rabbani (J1B014)
3.
Muhibban
Sahbandi (J1B014)
4.
Sofia Mardianti (J1B014104)
5.
Triadin Wahyudin (J1B014)
6.
Widyawati (J1B014114)
KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN
AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulisan makalah yang berjudul, “Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni
dalam Islam ”, telah selesai dikerjakan tepat pada waktunya.
Ucapan
terima kasih juga kami sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah pendidikan agama Islam Ibu
Fatmawati, M.S.I. yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk
menyelesaikan tugas makalah ini.
Semoga
para pembaca dapat mengambil manfaat dari tugas makalah ini dan dapat menambah
wawasan para pembaca.
Kami
sadar bahwa dalam penulisan ini masih
banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran Anda untuk lebih sempurnanya penulisan-penulisan
selanjutnya
Demikian
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya.
Mataram,
05 April 2015
Tim
penyusun
DAFTAR ISI
COVER............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1
Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah.................................................................................. 2
1.3
Tujuan ................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 3
2.1 Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi,
dan Seni................................... 3
2.2 Integrasi Iman, Ipteks, dan
Amal.......................................................... 9
2.3 Keutamaan Orang yang Beriman dan
Berilmu...................................... 11
2.4 Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam
dan Lingkungan .................. 13
BAB III PENUTUP
......................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 16
3.2 Saran...................................................................................................... 17
Daftar
Pustaka.................................................................................................. 18
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Islam adalah
jalan yang lurus yang telah diberikan oleh Allah. Dalam menciptakan manusia
Allah sealu mempunyai rahasia nya, kita sebagai mahluk Allah diberikan ilmu
pengetahuan agar bisa bertahan hidup di bumi ini. Ilmu pengetahuan adalah salah
satu cara untuk mengerti rahasia Allah. Orang yang berilmu mengembangkan
ilmunya dengan cara menciptakan teknologi-teknologi yang membantunya dalam
aktifitas dengan seni yang indah agar sesuatu yang dibuat tersebut senang
dilihat dan indah dirasakan.
Ilmu pengetahuan
pun harus terus dikembangkan dengan landasan iman, ilmu yang luas serta amal
yang shaleh. Apa gunanya berilmu namun tak mengamalkannya. Seperi orang yang
hanya berdiam diri dan tak akan jalan. Maka dari itu dibutuhkan iman ,
kepercayaan kepada Allah SWT bahwa Allah telah menciptakan kita dengan
sebaik-baiknya, mempercayai kita sebagai khalifah atau pemimpin bagi diri
senndiri dan orang lain.Allah akan memberikan ilmu bagi orang yang
bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu.
Setelah itu barulah kita mengamalkan
ilmu tersebut dengan baik. Karena allah bersabda dalam Qs.Al Mujadallah ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetaui apa yang kamu kerjakan.” Sebagai manusia
kita juga harus bertanggumg jawab
terhadap amanah yang telah diberikan kepada kita.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni?
2.
Bagaimana Integrasi Iman, Ipteks, dan
Amal?
3.
Baaimana Keutamaan Orang yang Beriman
dan Berilmu?
4.
Bagaiman Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap
Alam dan Lingkungan?
1.3
Tujuan
1.
Untuk Mengetahui Konsep Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
2.
Untuk Mengetahui Iman, Ipteks, dan Amal
3.
Untuk Mengetahui Keutamaan Orang yang
Beriman Dan Berilmu
4.
Untuk Mengetahui Bagaimana Tanggung
Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
Dunia
tak selebar daun kelor. Kini ungkapan itu sudah tidak di benarkan lagi. Kenyataan
sekarang, bahwa dunia memang selebar daun kelor, atau lebih kecil dari itu.
Kenyataan ini diakibatkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni. Persaingan global berlangsung dengan sangat ketat, baik
dilapangan ekonomi, politik, ataupun kebudayaan. Untuk megambil peran yang
berarti umat islam dituntut untuk melakukan lagkah-langkah yang sistematis dan
bersungguh-sungguh dalam upaya penguasaan, pemanfaatan, serta pengembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni.
Ilmu
pengetahuan atau biasa juga disebut Sains,
secara singkat dan sederhana dapat didefinisikan sebagai ”Himpunan /
pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian secara empirik dan dapat di terima oleh rasio.
Adapun teknologi adalah, “Penerapan konsep ilmiah yang tidak hanya bertujuan
menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman”, namun
lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam
gejala-gejala tersebut, untuk mengontrol dan megarahkan proses yang terjadi.
Jadi, teknologi disini berfungsi sebagai sarana memberikan kemudahan bagi
kehidupan manusia. Dengan kata lain, teknologi adalah: “Penerapan sains secara
sistematis untuk mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam
suatu proses produktif ekonomis untuk
meghasilakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia”.
Kedua
definisi tersebut menjelaskan bahwasanya antara ilmu pengetahuan dan teknologi,
disamping memiliki nisbah atau keterkaitan
yang sangat erat, juga memiliki peran dan fungsinya, ilmu pengetahuan dan
teknologi sama-sama merupakan jembatan yang menghubungkan seluruh kekayaan alam
dan sumber daya dengan kebutuhan manusia secara material (Yusuf,2006:279-280).
Definisi
ilmu pengetahuan dalam Enksiklopedia
Indonesia adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing
mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa
menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan. Menurut Epistemologi: setiap pengetahuan manusia
itu adalah hasil dari berkontaknya dua macam besaran, yaitu
a) Benda
atau yang diperiksa, diselidiki dan di akhirnya diketahui (objek)
b) Manusia
yang melakukan berbagai pemeriksaan dan penyelidikan dan akhirnya mengetahui
benda atau hal tadi (subjek)
Menurut
Prof. DR. Mohammad Hatta: “tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan hukum kausa dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya
maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun bangunnya dari dalam.”
Menurut
Prof. DR. A. Baiquni, Guru besar UGM, merumuskan sebagai berikut: “ Science merupakan general consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scintist.
Menurut
Prof. DR. M.J.Langerveld, Guru besar pada Rijk Universiteit di Utrecht
(Belanda), mengatakan sebagai berikut pengentahuan ialah kesatuan subjek yang
mengetahui dan objek yang diketahui. Suatu kesatuan dalam mana objek itu
dipandang oleh subjek sebagai diketahuinya.”
Jadi,
ilmu pengetahuan dapat dirumuskan sebagai berikut: “Kumpulan pengetahuan mengenai
suatu hal tertentu (objek/lapangan), yang merupakan kesatuan sistematis dan
memberikan penjelasan yang sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan dengan
menunjukan sebab-sebab kejadian itu.”(Salam,2000:14-15)
Sebenarnya,
perkembangan ilmu pengetahuan telah berlangsung sejak manusia pertama, yaitu
Adam, karena dia dijadikan khalifah
(penguasa) dimuka bumi. Ilmu pengetahuan yang pertama kali diberikan oleh Allah
kepadanya adalah ilmu pengetahuan tentang bumi atau alam semesta, mungkin yang
kini dikenal sebagai Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini diisyaratkan dalam
Al-Quran:QS. Al-Baqarah ayat 31-32
Artinya
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam
nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Allah mengemukakannya kepada para malaikat
lalu berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda-benda itu! Jika kamu memang
oran-orang yang benar.’ Mereka menjawab,’Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”(Q.S. Al-Baqarah:31-32)
Ayat
diatas menjelaskan bahwa manusia mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih luas
dibandingkan dengan para malaikat, dan Adam a.s sebagai manusia pertama
sekaligus sebagai bapak manusia benar-benar telah mengetahui bentuk segala
sesuatu pada masa ia hidup sampai masa akhir keturunannya di hari kemudian.
Namun, dalam ayat tersebut tidak diketahui dengan jelas dan bentuk teknis
penggunaan ilmu pengetahuan yang dimiliki Nabi Adam a.s bentuk yang lebih
operasional dikembangkan oleh Nabi Nuh a.s dalam bentuk teknologi perahu yang
sangat besar.
Selain
itu, salah satu bentuk teknologi dalam Al-Quran yang dianggap spektakuler
adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi bagian dari kisah kenabian
Nabi Sulaiman a.s. Pada waktu itu teknologi satelit mata-mata sudah ada yang
disebut Hud-Hud. Dia bisa mengirim berita dari/ke daerah wilayah kekuasaannya.
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ
بِهِۦ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
Artinya:
Maka tidak lama kemudian (datanglah
hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum
mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang
diyakini.(QS: An-Naml Ayat: 22)
Teknologi
agkutan yang canggih yang mampu membawa peralatan material dari jarak ribuan
kilometer hanya dalam waktu kurang dari satu detik
قَالَ ٱلَّذِى عِندَهُۥ عِلْمٌ مِّنَ ٱلْكِتَٰبِ أَنَا۠
ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ
مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ
أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ
فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ
Artinya :“Berkatalah
seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia
Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan
nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi
Maha Mulia”.
(QS: An-Naml Ayat: 40)
Pengendalian
angin (Q.S. Al-Anbiya: 81, Q.S. Shad: 36)
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚوَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ
Artinya:” Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman
angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri
yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.(
Q.S. Al-Anbiya: 81)
فَسَخَّرْنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦ
رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ
Artinya :”Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin
yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya”.(QS: Shaad Ayat: 36)
sehingga
dapat digunakan sebagai alat agkutan dalam wilayah kekuasaannya (Q.S. Al-Anbiya:
80 an Q.S. Saba: 12) ; dia menguasai teknologi logam berat dalam bentuk besi
dan tembaga (Q.S. Al-Anbiya:80 dan Q.S. Saba: 12), teknologi konstruksi dan
arsitektur (Q.S. Shad: 37, dan Q.S. Naml:44); teknologi komunikasi yang baik
antarmanusia dan makhluknya, yaitu hewan dan jin( Q.S. An-Naml: 17) dst.
(Yusuf,2006:286-289)
Dalam bahasa
Sanskerta, kata seni disebut Cilpa. Sebagai kata sifat, Cilpa berarti berwarna, dan kata
jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi
dengan bentuk-bentuk yang indak atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda
ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan
yang artistik. Cilpacastra adalah
buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk didalamnya apa yang
sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada perbedaan antara seniman dan
tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan
seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian ini ternyate tidak hanya terdapat di India
dan Indonesia. Juga terdapat di Barat pada masa lampau.
Dalam bahasa Latin pada abad
pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars,
artes, dan artista. Ars adalah
teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan
dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau
kemahiran; artista adalah anggota
yang ada didalam kelompok-kelompok itu. Ars
inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte
(italia), I’art (Perancis),Elarte (Spanyol), dan Art (Inggris), dan bersamaan dengan itu
isinyapun berkembang sedikit demi sedikit kearah pengertiaannya yang sekarang.
Tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain, orang Jerman menyebut seni
dengan Kunst dan orang Belanda dengan
Kunst, yang berasal dari kata lain
walaupun dengan pengertian yang sama. Bahasa Jerman juga menyebut dengan
istilah die Art yang berarti cara,
jalan, atu modus, yang juga dapat dikembalikan pada asal mula pengertian dan
kegiatan seni, namun demikian die Kunst-lah yang di angkat untuk istilah
tersebut.
Sedangkan
seni, islam mempunyai konsepsinya sendiri tentang kesenian, yaitu perpaduan
nilai estetika dengan nilai etika islam. Dengan demikian seni islam sebagai
karya dilahirkan oleh akhlak Islamiyah
dan nilai dengan akhlak Islamiyah.
Akhlak ialah sikap rohaniah yang melahirkan laku perbuatan manusia terhadap
Allah dan manusia, terhadap diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan
suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Qur’an dan Hadis.(Madya,1988: 121,122)
Seni
mengenai ciptaan. Penciptanya ialah seniman. Selaras dengan perbedaan seni
islam dan seni muslim, perlu dibedakan antara seniman islam dan seniman muslim.
Definisi seniman islam ialah: ”orang yang menghayati perasaan (impression) yang peka dan mahir
mengungkapkannya kedalam salah satu bentuk yang mengandung nilai estetika yang
berpadu dengan nilai etik islam”. Seniman muslim belum tentu mencipta karya
seni islam. Ia beragama islam, atau mengakui dirinya islam, tapi karyanya mungkin
tidak berakhlak islam.(Madya,1988:123)
Definisi
seni disimpulkan menjadi lima hakikat seni yaitu :
1. Seni
sebagai Kemahiran
Seni
adalah kemahiran atau kemampun untuk membuat barang-barang atau mengerjakan
sesuatu.
2. Seni
sebagai Kegiatan
Seni
sebagai kegiatan manusia merupakan kegiatan menciptakan karya apapun.
3. Seni
sebagai Karya
Bisa
diartikan sebagai produk kegiatan itu, yakni karya seni. Menurut John Hospers
mengartikan seni adalah setiap benda yang dibuat manusia, sebagai lawan dengan
benda-benda alam.
4. Seni
sebagai seni halus
Berhubungan
dengan cita keindahan
5. Seni
sebagai seni pandang
Yaitu
seni yang dapat dilihat seperti seni lukis, seni film, dan seni pahat.
2.2
Integrasi Iman, IPTEKS, dan Amal
Pengertian iman
menurut bahasa ialah “percaya”, bukanlah sekedar percaya saja, melainkan juga
harus dibuktikan dengan amal perbuatan nyata. Sebagai umat islam kita
mempercayai keEsaan Allah dengan segala sifat-sifat-Nya yang sempurna. Untuk
memantapkan kepercayaan tersebut perlu iman yang benar dan tauhid yang betul.
Tanda-tanda orang yang beriman apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, selalu
tawakal, tenang, tahan, tabah, tekun, teliti, dan tanggulangi. Dengan
mempercayai Allah kita sebagai manusia mendapatkan ilmu yang berguna.
Dengan ilmu tersebut manusia dapat
mengembangkan ilmu yang dimiliknya sehingga manusia dapat menciptakan berbagai
teknologi yang berguna. Dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam surat Yunus ayat
9 :
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمْ ۖ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ
Artinya “ sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbakti atau beramal
shaleh, Tuhan memberi petunjuk-Nya karena iman mereka,mengalir air sungai
dibawahnya, didalam surga nikmat kesenangan”. (El sultani,2000:35,36,41)
Beberapa
persyaratan mendasar harus dipenuhi oleh umat islam apabila berkehendak untuk
membangkitkan kembali iptek. Pertama, kita harus menyadari dan memahami kembali
bahwa tugas kekhalifahan kita itu
tidak lain adalah memakmurkan bumi
dengan berupaya menciptakan bayang-bayang syurga dibumi. Alat untuk mengemban
tugas tersebut adalah iptek. Khalifah
itu secara harfiah artinya orang yang
mengikuti dari belakang maksudnya sebagai pengganti. Karena khalifah itu artinya pengganti
seolah-olah Allah berfirman: Hai Adam dan sekalian umat manusia dan
keturunanya, Aku telah ciptakan bumi dan langit seisinya, silahkan membuatnya
dengan lebih baik demi untuk kepentingan sendiri. Bila kamu kedinginan
seyogyanya kamu menbuat pakaian. Didirrikan pabrik tekstil. Telah aku sediakan
bahan-bahannya, seperti kapas atau wol. Jangan mengharapkan Aku yang membuatkan
pabrik tekstil untukmu (Sidik,1995:20).
Setelah
kita mempunyai iman, Allah memberikan kita ilmu yang berguna. Ilmu yang berguna
inilah yang membangkitkan manusia untuk menciptakan teknologi yang berguna
membantu manusia dalam aktifitas sehari-hari. Dengan teknologi tersebut kita
telah mengamalakan ilmu kita namun sebagian dari kita memiliki ilmu namun tak
mengamalkannya.
Jelas
bahwa menuntut ilmu tak selalu berjalan mulus, tidak sedikit menghadapai
rintangan dan cobaan tetapi apalah arti semua itu dibandingkan dengan buahnya.
Namun, disisi lain tak patut dilupakan juga bahwa sebagian orang yang berilmu
tak menunjukan sisi kemuliaan dirinya. Ia tidak mendapatkan seedikitpun dari
ilmunya. Ia mirip binatang ternak yang dengan susah payah membawa setumpuk buku
diatas punggungnya, namun tidak membuatnya paham isi buku-buku tersebut. Orang
berilmu seperti itu adalah orang berilmu yang tak beramal ia bagaikan pohon tak
berbuah, awan yang tak menurunkan hujan , lilin yang menerangi sekitarnya
dengan memberikan dirinya terbakar. Ia pun seperti binatang yang terikat pada
alat pemutar punumbuk gandum. Semua perumpaan itu menjelaskan kerugian dan
nasib buruk yang dialami orang berilmu namun tak beramal.
Dalam
islam ada sejumlah riwayat yang mengandung celaan dan teguran terhadap orang
berilmu, diantaranya:
1. Rasulullah
SAW bersabda: “barangsiapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya
ia tidak mendapatkan apa-apa darinya kecuali semakin menjauh dari Allah”
2. Amirul
Mukminin as berkata: “ilmu itu berbarrengan dengan amal. Barang siapa
mengetahui sesuatu, amalkanlah. Ilmu itu menyeru amal, sambutlah seruannya.
Kalau tidak, ia akan meninggalkannya.”
3. Sebenarnya
orang berilmu yang tak beramal tak pantas disebut orang berilmu. Rasulullah SAW
bersabda : “sesorang tidak dapat dikatakan berilmu sampai ia mengamalkan
ilmunya.”
4. Bahkan
lebih dari itu, ia memikul tanggung jawab semua orang berilmu, padahal bukan
orang yang mendapat manfaat ilmu. Imam Ali as pernah mengingatkan masalh ini: “
jika kamu memiliki pengetahuan,amalkan pengetahuan itu supaya kamu mendapat
petujuk. Karena orang yang berilmu yang beramal tidak sesuai dengan
pengetahuannya seperti orang bodoh yang tak menyadari kebodohanya. Bahkan,
hujjah lebih kuat atas orang berilmu seperti ini dan kesengsaraanpun lebih lama
baginya. (Husaini,2013:13,14)
2.3
Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu
Dalam
penggalan surat al Mujaadilah ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟
يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرٌ
Artinya “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetaui apa yang kamu kerjakan.”
Didalam
surat diatas jelas, bahwa Allah menggunakan dua ukuran untuk meninggikan
derajat seseorang, yaitu pertama orang yang beriman, dan kedua orang yang
berilmu pengetahuan.
Allah
memuji para cerdik cendikian, karena mereka berfikir tentang kejadian dan cara
kerja alam ini, sekaligus berzikir, kemudian hasil dari pikir dan zikirnya
dipadukan, sehingga lahir amal dan kaya-karya nyata yang bermanfaat. Bukankah
nabi bersabda: “khairunnas anfa’uhu linnas”. Orang paling baik itu adalah orang
yang mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap sesamanya. Dan
yang mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap sesamanya itu
tidak lain apabila seseorang mempunyai ilmu pengetahuan yang disebar luaskan
kepada masyarakat dengan semata-mata mengharap ridho-Nya. Nilai ilmu yang
bermanfaat bagi orang lain tersebut, tidak hanya berhenti pada saat orang
tersebut masih hidup, namun akan berkelanjutan meskipun orang itu telah
dipanggil oleh Allah SWT. Maka sungguh sangat tepat sabda nabi yang
menyebutkan: “jika manuasia telah wafat, maka terputuslah amalnya, kecuali yang
meninggalakan 3 hal, yakni, sedekah jariah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya
oleh umat, anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”. Orang yang tidak
berpengetahuan hanya mampu memberikan manfaat dengan sangat terbatas kepada
masyarakat sekelilingnya. Begitu dia dipanggil oleh Allah, karena jatah hidunya
didunia telah habis, maka habis pulalah amalnya, yang berarti nilai
kemanfaatannya bagi umat amat sedikit. Dengan demikian bekal yang dibawa
dihadapan Allah kelak juga amat sedikit. Sungguh amat merugi orang-orang yang
demikian ini.
Oleh
karena itu Allah menempatkan orang yang berilmu pengetahuan sebagai orang yang
ditinggikan derajatnya apabila dilandasi dengan iman yang kokoh. Hal demikian
cukup wajar, karena dengan ilmu yang dimilikinya, orang lain dapat merasakan
manfaat kehadirannya di muka bumi, bahkan ketika orang tersebut telah wafat
(Sidik,1995: 8,10,11).
Beberapa
hadist tentang keutamaan ilmu dan orang berilmu :
Kebaikan orang
berilmu : “ Dalam sebuah hadist diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : “ tidak
ada kehidupan yang baik kecuali bagi dua orang: orang berilmu yang
pengetahuannya dijalankan dan bermanfaat, serta orang yang mau mendengarkan
pelajaran.”
Pewaris
para nabi : “ Imam Ja’far Shadiq bersabda, “ sesunggunya ulama adalah pewaris
para nabi. Para Nabi tidak mewariskan baik dirham maupun dinar. Mereka hanya
meninggalkan hadist. Maka barang siapa mengambilnya, ia telah mendapatkan
keuntungan besar. Perhatikanlah dari mana kamu memperole penetauan ini !
sesungguhnya sejumlah orang adil dari ahlil bait ada disetiap masa. Ia menjaga
ilmu dari tahrif yang dilakukan orang-orang yan melampaui batas, klaim yang tak
mendasar dan menyimpang, serta pemikiran dari orang-orang bodoh.
Lebih
utama dari syahid : “ kita tahu bahwa dalam islam syuhada memilik kedudukan
tinggi. Meskipun demikian Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Orang yang
sederajat lebih utama dari syahid, syahid sederajat lebih utama dari hamba.
Keutamaan orang berilmu atas semua manusia bagaikan keutamaanku atas orang yang
memiliki keutamaan yang terendah dari mereka. Amirul Mukmin Ali as bersabda :
orang yang sedang menghadapi kematian dalam keadaan ia menuntut ilmu, maka
antara dirinya dan para nabi hanya terpisah sederajat. Hari yang tak berkah : “ Rasululla SAW pernah bersabda : “
apabila hari yang aku lalui tidak
disertai penambahan ilmu untuk mendekatkan diriku kepada Allah, matahari yang
terbit dihari itu tidak membawa keberkahan bagiku.”
“Orang
yang paling berilmu ialah orang yang menguasai pengetahuan orang lain disamping
pengetahuannya. Oarang yang paling berharga ialah yang paling banyak ilmunya
dan yang paling rendah nilainya ialah paling sedikit ilmunya.”
“Apabila
kematian menjemput penuntut ilmu yang sedang menuntut ilmu, ia meninggal
sebagai seorang syahid.”
“Satu
jam yang dilalui orang berilmu dengan berbaring di atas ranjang sambil
merenungi pengetahuannya jauh lebih baik dari ibadah ahli selama 70 tahun.
(Husaini, 2013 : 7, 8, 10, 11)
2.4
Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan
Manusia
diciptakan dengan mengemban tugas sebagai khalifah
Allah di bumi ia di karuniai kemampuan akal pikir yang membedakan dari bintang.
Sudah sepantasnya bila akal pikir ini beriman kepada Khaliknya yaitu Tuhan,
Allah Yang Maha Esa, yang telah menciptakan manusia dan seluruh alam
semesta.
Allah
mengirim wahyu petunjuk untuk
mengaktifkan akal fikir manusia dan meluluskan imanya dan serta pedoman
dalam beribadah melalui kitab-kirtab suci yang dibawa oleh para Nabi dan
Rasul-Nya. Didalam Al-Qur’an, manusia diperintahkan untuk mempelajari alam
semesta secara ilmiah dan memanfaatkannya sebagai sarana ibadah serta pemenuhan
bagi keperluan dan kesejahteraan hidupnya.
Untuk
maksud itu manusia diwajibkan menggunakan akal fikir dan iman secara tepadu
sehingga dapat terhindar dari bahaya keangkara kemungkaran hawa nafsu dan
kesakahan yang dapat menghancurkan dirinya sendiri.
Perhatikanlah
firman Allah berikut, QS. Ali-Imran 190-191
Artinya
“sungguh didalam penciptaan segala langit
dan bumi, dan dalam pergantian malam dan siang, terdapat ayat-ayat (tanda-tanda
kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir mendalam. Yaitu orang yang berzikir
(mengingat) Allah sambil berdiri, dan duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berucap : “Wahai
Tuhan kami. Tidak sia-sia Kau ciptakan semua ini. Maha suci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa api neraka.”
Dan
perhatikan lagi Firmannya : QS. Yunus
101
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
ۚوَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Artinya:“katakanlah, nalarilah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidaklah
bermanfaat ayat-ayat itu dan peringatan-peringatan itu bagi orang-orang yang
tidak beriman.“
Ayat ini
mengisyaratkan dan menganjurkan agar orang senantiasa melakukan penalaran yaitu
menerapkan metode ilmiah untuk mempelajari alam semesta sekaligus menyatakan
bahwa di alam semesta berlaku azas keterbukaan bagi penalaran. Azas ini sangat
penting artinya bagi penembangan saints dan ilmu pengetahuan. (Alim, 1996 :
90,91)
Tugas
manusia di bumi ada dua yaitu : mengabdi atau beribadah dan merawat kemakmuran
bumi . Demi suksesnya tugas yang pertama , ia harus berbekal Imtaq sedangkan
untuk kesuksesan yang kedua harus berbekal Iptek. Ini berarti , untuk
kelancaran tugas tersebut , Allah telah siapkan sarana dan prasarana yang lengkap untuk segala profesi. Sebagai
imbangannya , tugas kekhalifahaan bukan
tugas gratis tanpa pertanungjawaban . Karena itu, tugas ini merupakan tugas
yang berkelanjutan dan berkesinambungan; mulai dari menata, merawat, memanfaatkan
dan melestarikan. Keseluruhan tugas yan berkelanjutan dan berkesinambungan
tersebut diarakan untuk kemaslahatan umat (Fahrurrozi dkk,2010:1,2)
Tanggung
jawab ilmuan sebagai umat islam :
1. Tangung
jawab ilmiah, yaitu menetapi berbagai kaidah keilmuan
2. Tanggung
jawab pada diri sendiri ,menyadari bahwa menuntut ilmu adalah proses yang
berlansung sepanjang ayat demi peningkatan kualitas pribadi yang semakin bijak
dan takwa
3. Tanggung
jawab kepada masyarakat , bahwa ilmu yang dimiliki adalah untuk kemaslahatan
bersama dan diwasiatkan kepada orang lain
4. Tanggung
jawab kepada negara , bahwa dengan ilmunya ia berusaha untuk ikut pembangunan
bangsa dan negara
5. Tanggung
jawab kepada Allah , menyadari bahwa ilmu yang dimiliki adalah nikmat Allah dan
diamalkan demi memperoleh ridho Allah.(Nasuka,2005:11)
Setelah
mengetahui tanggung jawab ilmuan sebagai umat muslim terciptalah timbal balik
yang baik , selain itu manusia harus menjaga, merawat, memanfaatkan dan
melestarikan alam dan lingkungan. Sebab alam dan lingkungan inilah sumberdaya
yang terbesar bagi para ilmuan dalam merealisasikan keilmuannya. Dengan alam
dan lingkungan yang indah semua kehidupan yang dibumi dapat berjalan dengan
baik dan teratur.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
1. Ilmu
pengetauan adalah kumpulan pengetahuan menenai suatu hal tertentu
(objek/lapangan), yang merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan
yang sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan dengan menunjukan sebab-sebab
kejadian itu. Teknologi adalah penerapan sains secara sistematis untuk
mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam suatu proses
produktif ekonomis untuk meghasilakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia
dan seni dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa
berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan
bentuk-bentuk yang indak atau dihiasi dengan indah
2.
Iman adalah percaya kepada Allah dengan
segala ciptaannya , karena Allah yang memberikan ilmu yang berguna. Ilmu yang
berguna inilah yang membangkitkan manusia untuk menciptakan teknologi yang
berguna membantu manusia dalam aktifitas sehari-hari. Dengan teknologi tersebut
kita telah mengamalakan ilmu kita.
3.
Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu
akan diangkat derajatnya beberapa derajat oleh Allah dan Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan. Dan Allah Maha Mengetaui apa yang kamu kerjakan.
4. Tanggung
Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan sebagai umat muslim terciptalah
timbal balik yang baik , selain itu manusia harus menjaga, merawat,
memanfaatkan dan melestarikan alam dan lingkungan. Sebab alam dan lingkungan
inilah sumberdaya yang terbesar bagi para ilmuan dalam merealisasikan
keilmuannya. Dengan alam dan lingkungan yang indah semua kehidupan yang dibumi
dapat berjalan dengan baik dan teratur
1.2
Saran
Untuk
memgembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kita sebagai manusia sebaiknya
menjaga apa yang telah diberikan oleh Allah. Menjaga amanah sebagai khalifah
dan selalu merawat alam dan lingkungan dibumi ini. Teknologi yang berkembang
sekarang ini sebaiknya diarahkan kesesuatu yang positif dan berguna bagi
manusia.
Daftar
Pustaka
Achmad, Mudlor. 1994. Ilmu dan Keinginan Tahu Epistemologi dalam
Filsafat. Bandung: Trigendi Karya
Alim, Sahirul. 1996. Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi dan
Islam. Yogyakarta: Titianilahi Press
Fahrururrozi, Aziz dan Erta Mahyudin.
2010. Fiqih Manajerial Aplikasi
Nila-nilai Ibadah dan Kehidupan. Jakarta: Pustaka Al-Mawardi
Husaini, Said Husain. 2013. BerTuhan dalam Pusaran Zaman. Jakarta:
Penerbit Citra
Madya dan Sidi Gazalba. 1998. Islam dan Kesenian Relevansi Islam dan Seni
Budaya. Jakarta: Pustaka Al-Husna
Nasuka. 2005. Teori Sistem Sebagai Salah Satu Alternatif Pendekatan dalam Ilmu-ilmu
Agama Islam. Jakarta: Kencana
Sidik, Muhammad Ansorudin. 1995. Pengembagan Wawasan IPTEK Pondok Pesantren.
Jakarta: PT. Bumi Aksara
Zubair, Chairis. 1997. Etika Rekayasa Menutut Konsep Islam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yusuf, Ali Anwar. 2006. Islam dan Sains Modern Sentuhan Islam
terhadap Berbagai Disiplin Ilmu. Bandung: CV Pustaka Setia
Anonymous. 2015. AL-qur’an. http://quran.com/2Surat
Al-Baqarah. Diakses 29 April 2015