Sabtu, 16 Mei 2015

makalah agama islam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam islam



PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam Islam


Oleh kelompok V:
1.      Aluh Silva Iswari                  (J1B014)   
2.      Muhammad Rabbani            (J1B014)
3.      Muhibban Sahbandi              (J1B014)
4.      Sofia Mardianti                     (J1B014104)
5.      Triadin Wahyudin                 (J1B014)
6.      Widyawati                            (J1B014114)


KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah yang berjudul, “Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam Islam ”, telah selesai dikerjakan tepat pada waktunya.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada dosen pengampu  mata kuliah pendidikan agama Islam Ibu Fatmawati, M.S.I. yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas makalah ini.
Semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari tugas makalah ini dan dapat menambah wawasan para pembaca.
Kami  sadar bahwa dalam penulisan ini masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran Anda untuk lebih sempurnanya penulisan-penulisan selanjutnya
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Mataram, 05 April 2015

                                                                                                     Tim penyusun









DAFTAR ISI
COVER.............................................................................................................    i
KATA PENGANTAR....................................................................................    ii  
DAFTAR ISI....................................................................................................    iii 
BAB I PENDAHULUAN................................................................................    1  
1.1  Latar Belakang.......................................................................................   1  
1.2  Rumusan Masalah..................................................................................   2
1.3  Tujuan ...................................................................................................    2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................   3
       2.1 Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni...................................   3
       2.2 Integrasi Iman, Ipteks, dan Amal..........................................................    9
       2.3 Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu......................................   11
       2.4 Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan ..................   13
BAB III PENUTUP .........................................................................................   16
       3.1 Kesimpulan ...........................................................................................    16
       3.2 Saran......................................................................................................    17
Daftar Pustaka..................................................................................................   18
      

           




BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Islam adalah jalan yang lurus yang telah diberikan oleh Allah. Dalam menciptakan manusia Allah sealu mempunyai rahasia nya, kita sebagai mahluk Allah diberikan ilmu pengetahuan agar bisa bertahan hidup di bumi ini. Ilmu pengetahuan adalah salah satu cara untuk mengerti rahasia Allah. Orang yang berilmu mengembangkan ilmunya dengan cara menciptakan teknologi-teknologi yang membantunya dalam aktifitas dengan seni yang indah agar sesuatu yang dibuat tersebut senang dilihat dan indah dirasakan.
Ilmu pengetahuan pun harus terus dikembangkan dengan landasan iman, ilmu yang luas serta amal yang shaleh. Apa gunanya berilmu namun tak mengamalkannya. Seperi orang yang hanya berdiam diri dan tak akan jalan. Maka dari itu dibutuhkan iman , kepercayaan kepada Allah SWT bahwa Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya, mempercayai kita sebagai khalifah atau pemimpin bagi diri senndiri dan orang lain.Allah akan memberikan ilmu bagi orang yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu.  Setelah itu barulah kita  mengamalkan ilmu tersebut dengan baik. Karena allah bersabda dalam Qs.Al Mujadallah ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetaui apa yang kamu kerjakan.” Sebagai manusia kita juga  harus bertanggumg jawab terhadap amanah yang telah diberikan kepada kita.  



1.2    Rumusan Masalah
1.    Bagaimana  Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni?
2.    Bagaimana Integrasi Iman, Ipteks, dan Amal?
3.    Baaimana Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu?
4.    Bagaiman Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan?

1.3    Tujuan
1.    Untuk Mengetahui Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
2.    Untuk Mengetahui Iman, Ipteks, dan Amal
3.    Untuk Mengetahui Keutamaan Orang yang Beriman Dan Berilmu
4.    Untuk Mengetahui Bagaimana Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan     Lingkungan


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
Dunia tak selebar daun kelor. Kini ungkapan itu sudah tidak di benarkan lagi. Kenyataan sekarang, bahwa dunia memang selebar daun kelor, atau lebih kecil dari itu. Kenyataan ini diakibatkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Persaingan global berlangsung dengan sangat ketat, baik dilapangan ekonomi, politik, ataupun kebudayaan. Untuk megambil peran yang berarti umat islam dituntut untuk melakukan lagkah-langkah yang sistematis dan bersungguh-sungguh dalam upaya penguasaan, pemanfaatan, serta pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Ilmu pengetahuan atau biasa juga disebut Sains, secara singkat dan sederhana dapat didefinisikan sebagai ”Himpunan / pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian secara empirik dan dapat di terima oleh rasio. Adapun teknologi adalah, “Penerapan konsep ilmiah yang tidak hanya bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman”, namun lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala-gejala tersebut, untuk mengontrol dan megarahkan proses yang terjadi. Jadi, teknologi disini berfungsi sebagai sarana memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, teknologi adalah: “Penerapan sains secara sistematis untuk mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam suatu proses produktif ekonomis untuk meghasilakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia”.
Kedua definisi tersebut menjelaskan bahwasanya antara ilmu pengetahuan dan teknologi, disamping memiliki nisbah atau keterkaitan yang sangat erat, juga memiliki peran dan fungsinya, ilmu pengetahuan dan teknologi sama-sama merupakan jembatan yang menghubungkan seluruh kekayaan alam dan sumber daya dengan kebutuhan manusia secara material (Yusuf,2006:279-280).
Definisi ilmu pengetahuan dalam Enksiklopedia Indonesia adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan. Menurut Epistemologi: setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari berkontaknya dua macam besaran, yaitu
a)      Benda atau yang diperiksa, diselidiki dan di akhirnya diketahui (objek)
b)      Manusia yang melakukan berbagai pemeriksaan dan penyelidikan dan akhirnya mengetahui benda atau hal tadi (subjek)
Menurut Prof. DR. Mohammad Hatta: “tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausa dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun bangunnya dari dalam.”
Menurut Prof. DR. A. Baiquni, Guru besar UGM, merumuskan sebagai berikut: “ Science merupakan general consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scintist.
Menurut Prof. DR. M.J.Langerveld, Guru besar pada Rijk Universiteit di Utrecht (Belanda), mengatakan sebagai berikut pengentahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai diketahuinya.”
Jadi, ilmu pengetahuan dapat dirumuskan sebagai berikut: “Kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek/lapangan), yang merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan yang sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan dengan menunjukan sebab-sebab kejadian itu.”(Salam,2000:14-15)
Sebenarnya, perkembangan ilmu pengetahuan telah berlangsung sejak manusia pertama, yaitu Adam, karena dia dijadikan khalifah (penguasa) dimuka bumi. Ilmu pengetahuan yang pertama kali diberikan oleh Allah kepadanya adalah ilmu pengetahuan tentang bumi atau alam semesta, mungkin yang kini dikenal sebagai Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini diisyaratkan dalam Al-Quran:QS. Al-Baqarah ayat 31-32

Artinya “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Allah mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda-benda itu! Jika kamu memang oran-orang yang benar.’ Mereka menjawab,’Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”(Q.S. Al-Baqarah:31-32)
Ayat diatas menjelaskan bahwa manusia mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan para malaikat, dan Adam a.s sebagai manusia pertama sekaligus sebagai bapak manusia benar-benar telah mengetahui bentuk segala sesuatu pada masa ia hidup sampai masa akhir keturunannya di hari kemudian. Namun, dalam ayat tersebut tidak diketahui dengan jelas dan bentuk teknis penggunaan ilmu pengetahuan yang dimiliki Nabi Adam a.s bentuk yang lebih operasional dikembangkan oleh Nabi Nuh a.s dalam bentuk teknologi perahu yang sangat besar.
Selain itu, salah satu bentuk teknologi dalam Al-Quran yang dianggap spektakuler adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi bagian dari kisah kenabian Nabi Sulaiman a.s. Pada waktu itu teknologi satelit mata-mata sudah ada yang disebut Hud-Hud. Dia bisa mengirim berita dari/ke daerah wilayah kekuasaannya.
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
Artinya: Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.(QS: An-Naml Ayat: 22)
Teknologi agkutan yang canggih yang mampu membawa peralatan material dari jarak ribuan kilometer hanya dalam waktu kurang dari satu detik
قَالَ ٱلَّذِى عِندَهُۥ عِلْمٌ مِّنَ ٱلْكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ
Artinya :“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
(QS: An-Naml Ayat: 40)
Pengendalian angin (Q.S. Al-Anbiya: 81, Q.S. Shad: 36)
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚوَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ
Artinya:” Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.( Q.S. Al-Anbiya: 81)
فَسَخَّرْنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦ رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ
Artinya :”Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya”.(QS: Shaad Ayat: 36)
sehingga dapat digunakan sebagai alat agkutan dalam wilayah kekuasaannya (Q.S. Al-Anbiya: 80 an Q.S. Saba: 12) ; dia menguasai teknologi logam berat dalam bentuk besi dan tembaga (Q.S. Al-Anbiya:80 dan Q.S. Saba: 12), teknologi konstruksi dan arsitektur (Q.S. Shad: 37, dan Q.S. Naml:44); teknologi komunikasi yang baik antarmanusia dan makhluknya, yaitu hewan dan jin( Q.S. An-Naml: 17) dst. (Yusuf,2006:286-289)
Dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut Cilpa. Sebagai kata sifat, Cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indak atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk didalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada perbedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian ini ternyate tidak hanya terdapat di India dan Indonesia. Juga terdapat di Barat pada masa lampau.
Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; artista adalah anggota yang ada didalam kelompok-kelompok itu. Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte (italia), I’art (Perancis),Elarte (Spanyol), dan Art (Inggris), dan bersamaan dengan itu isinyapun berkembang sedikit demi sedikit kearah pengertiaannya yang sekarang. Tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain, orang Jerman menyebut seni dengan Kunst dan orang Belanda dengan Kunst, yang berasal dari kata lain walaupun dengan pengertian yang sama. Bahasa Jerman juga menyebut dengan istilah die Art yang berarti cara, jalan, atu modus, yang juga dapat dikembalikan pada asal mula pengertian dan kegiatan seni, namun demikian die Kunst-lah yang di angkat untuk istilah tersebut.
Sedangkan seni, islam mempunyai konsepsinya sendiri tentang kesenian, yaitu perpaduan nilai estetika dengan nilai etika islam. Dengan demikian seni islam sebagai karya dilahirkan oleh akhlak Islamiyah dan nilai dengan akhlak Islamiyah. Akhlak ialah sikap rohaniah yang melahirkan laku perbuatan manusia terhadap Allah dan manusia, terhadap diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Qur’an dan Hadis.(Madya,1988: 121,122)
Seni mengenai ciptaan. Penciptanya ialah seniman. Selaras dengan perbedaan seni islam dan seni muslim, perlu dibedakan antara seniman islam dan seniman muslim. Definisi seniman islam ialah: ”orang yang menghayati perasaan (impression) yang peka dan mahir mengungkapkannya kedalam salah satu bentuk yang mengandung nilai estetika yang berpadu dengan nilai etik islam”. Seniman muslim belum tentu mencipta karya seni islam. Ia beragama islam, atau mengakui dirinya islam, tapi karyanya mungkin tidak berakhlak islam.(Madya,1988:123)
Definisi seni disimpulkan menjadi lima hakikat seni yaitu :
1.      Seni sebagai Kemahiran
Seni adalah kemahiran atau kemampun untuk membuat barang-barang atau mengerjakan sesuatu.
2.      Seni sebagai Kegiatan
Seni sebagai kegiatan manusia merupakan kegiatan menciptakan karya apapun.
3.      Seni sebagai Karya
Bisa diartikan sebagai produk kegiatan itu, yakni karya seni. Menurut John Hospers mengartikan seni adalah setiap benda yang dibuat manusia, sebagai lawan dengan benda-benda alam.
4.      Seni sebagai seni halus
Berhubungan dengan cita keindahan
5.      Seni sebagai seni pandang
Yaitu seni yang dapat dilihat seperti seni lukis, seni film, dan seni pahat.


2.2 Integrasi Iman, IPTEKS, dan Amal
Pengertian iman menurut bahasa ialah “percaya”, bukanlah sekedar percaya saja, melainkan juga harus dibuktikan dengan amal perbuatan nyata. Sebagai umat islam kita mempercayai keEsaan Allah dengan segala sifat-sifat-Nya yang sempurna. Untuk memantapkan kepercayaan tersebut perlu iman yang benar dan tauhid yang betul. Tanda-tanda orang yang beriman apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, selalu tawakal, tenang, tahan, tabah, tekun, teliti, dan tanggulangi. Dengan mempercayai Allah kita sebagai manusia mendapatkan ilmu yang berguna.
 Dengan ilmu tersebut manusia dapat mengembangkan ilmu yang dimiliknya sehingga manusia dapat menciptakan berbagai teknologi yang berguna. Dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam surat Yunus ayat 9  :
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمْ ۖ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ
Artinya “ sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbakti atau beramal shaleh, Tuhan memberi petunjuk-Nya karena iman mereka,mengalir air sungai dibawahnya, didalam surga nikmat kesenangan”. (El sultani,2000:35,36,41)
            Beberapa persyaratan mendasar harus dipenuhi oleh umat islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali iptek. Pertama, kita harus menyadari dan memahami kembali bahwa tugas kekhalifahan kita itu tidak lain adalah memakmurkan  bumi dengan berupaya menciptakan bayang-bayang syurga dibumi. Alat untuk mengemban tugas tersebut adalah iptek. Khalifah itu secara harfiah artinya orang yang mengikuti dari belakang maksudnya sebagai pengganti. Karena khalifah itu artinya pengganti seolah-olah Allah berfirman: Hai Adam dan sekalian umat manusia dan keturunanya, Aku telah ciptakan bumi dan langit seisinya, silahkan membuatnya dengan lebih baik demi untuk kepentingan sendiri. Bila kamu kedinginan seyogyanya kamu menbuat pakaian. Didirrikan pabrik tekstil. Telah aku sediakan bahan-bahannya, seperti kapas atau wol. Jangan mengharapkan Aku yang membuatkan pabrik tekstil untukmu (Sidik,1995:20).
            Setelah kita mempunyai iman, Allah memberikan kita ilmu yang berguna. Ilmu yang berguna inilah yang membangkitkan manusia untuk menciptakan teknologi yang berguna membantu manusia dalam aktifitas sehari-hari. Dengan teknologi tersebut kita telah mengamalakan ilmu kita namun sebagian dari kita memiliki ilmu namun tak mengamalkannya.
            Jelas bahwa menuntut ilmu tak selalu berjalan mulus, tidak sedikit menghadapai rintangan dan cobaan tetapi apalah arti semua itu dibandingkan dengan buahnya. Namun, disisi lain tak patut dilupakan juga bahwa sebagian orang yang berilmu tak menunjukan sisi kemuliaan dirinya. Ia tidak mendapatkan seedikitpun dari ilmunya. Ia mirip binatang ternak yang dengan susah payah membawa setumpuk buku diatas punggungnya, namun tidak membuatnya paham isi buku-buku tersebut. Orang berilmu seperti itu adalah orang berilmu yang tak beramal ia bagaikan pohon tak berbuah, awan yang tak menurunkan hujan , lilin yang menerangi sekitarnya dengan memberikan dirinya terbakar. Ia pun seperti binatang yang terikat pada alat pemutar punumbuk gandum. Semua perumpaan itu menjelaskan kerugian dan nasib buruk yang dialami orang berilmu namun tak beramal.
            Dalam islam ada sejumlah riwayat yang mengandung celaan dan teguran terhadap orang berilmu, diantaranya:
1.      Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya ia tidak mendapatkan apa-apa darinya kecuali semakin menjauh dari Allah”
2.      Amirul Mukminin as berkata: “ilmu itu berbarrengan dengan amal. Barang siapa mengetahui sesuatu, amalkanlah. Ilmu itu menyeru amal, sambutlah seruannya. Kalau tidak, ia akan meninggalkannya.”
3.      Sebenarnya orang berilmu yang tak beramal tak pantas disebut orang berilmu. Rasulullah SAW bersabda : “sesorang tidak dapat dikatakan berilmu sampai ia mengamalkan ilmunya.”
4.      Bahkan lebih dari itu, ia memikul tanggung jawab semua orang berilmu, padahal bukan orang yang mendapat manfaat ilmu. Imam Ali as pernah mengingatkan masalh ini: “ jika kamu memiliki pengetahuan,amalkan pengetahuan itu supaya kamu mendapat petujuk. Karena orang yang berilmu yang beramal tidak sesuai dengan pengetahuannya seperti orang bodoh yang tak menyadari kebodohanya. Bahkan, hujjah lebih kuat atas orang berilmu seperti ini dan kesengsaraanpun lebih lama baginya. (Husaini,2013:13,14)     
2.3 Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu
            Dalam penggalan surat al Mujaadilah ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetaui apa yang kamu kerjakan.”
            Didalam surat diatas jelas, bahwa Allah menggunakan dua ukuran untuk meninggikan derajat seseorang, yaitu pertama orang yang beriman, dan kedua orang yang berilmu pengetahuan.
            Allah memuji para cerdik cendikian, karena mereka berfikir tentang kejadian dan cara kerja alam ini, sekaligus berzikir, kemudian hasil dari pikir dan zikirnya dipadukan, sehingga lahir amal dan kaya-karya nyata yang bermanfaat. Bukankah nabi bersabda: “khairunnas anfa’uhu linnas”. Orang paling baik itu adalah orang yang mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap sesamanya. Dan yang mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap sesamanya itu tidak lain apabila seseorang mempunyai ilmu pengetahuan yang disebar luaskan kepada masyarakat dengan semata-mata mengharap ridho-Nya. Nilai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain tersebut, tidak hanya berhenti pada saat orang tersebut masih hidup, namun akan berkelanjutan meskipun orang itu telah dipanggil oleh Allah SWT. Maka sungguh sangat tepat sabda nabi yang menyebutkan: “jika manuasia telah wafat, maka terputuslah amalnya, kecuali yang meninggalakan 3 hal, yakni, sedekah jariah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya oleh umat, anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”. Orang yang tidak berpengetahuan hanya mampu memberikan manfaat dengan sangat terbatas kepada masyarakat sekelilingnya. Begitu dia dipanggil oleh Allah, karena jatah hidunya didunia telah habis, maka habis pulalah amalnya, yang berarti nilai kemanfaatannya bagi umat amat sedikit. Dengan demikian bekal yang dibawa dihadapan Allah kelak juga amat sedikit. Sungguh amat merugi orang-orang yang demikian ini.
            Oleh karena itu Allah menempatkan orang yang berilmu pengetahuan sebagai orang yang ditinggikan derajatnya apabila dilandasi dengan iman yang kokoh. Hal demikian cukup wajar, karena dengan ilmu yang dimilikinya, orang lain dapat merasakan manfaat kehadirannya di muka bumi, bahkan ketika orang tersebut telah wafat (Sidik,1995: 8,10,11).
            Beberapa hadist tentang keutamaan ilmu dan orang berilmu :
Kebaikan orang berilmu : “ Dalam sebuah hadist diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : “ tidak ada kehidupan yang baik kecuali bagi dua orang: orang berilmu yang pengetahuannya dijalankan dan bermanfaat, serta orang yang mau mendengarkan pelajaran.”
Pewaris para nabi : “ Imam Ja’far Shadiq bersabda, “ sesunggunya ulama adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidak mewariskan baik dirham maupun dinar. Mereka hanya meninggalkan hadist. Maka barang siapa mengambilnya, ia telah mendapatkan keuntungan besar. Perhatikanlah dari mana kamu memperole penetauan ini ! sesungguhnya sejumlah orang adil dari ahlil bait ada disetiap masa. Ia menjaga ilmu dari tahrif yang dilakukan orang-orang yan melampaui batas, klaim yang tak mendasar dan menyimpang, serta pemikiran dari orang-orang bodoh.
Lebih utama dari syahid : “ kita tahu bahwa dalam islam syuhada memilik kedudukan tinggi. Meskipun demikian Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Orang yang sederajat lebih utama dari syahid, syahid sederajat lebih utama dari hamba. Keutamaan orang berilmu atas semua manusia bagaikan keutamaanku atas orang yang memiliki keutamaan yang terendah dari mereka. Amirul Mukmin Ali as bersabda : orang yang sedang menghadapi kematian dalam keadaan ia menuntut ilmu, maka antara dirinya dan para nabi hanya terpisah sederajat.        Hari yang tak berkah : “ Rasululla SAW pernah bersabda : “ apabila hari  yang aku lalui tidak disertai penambahan ilmu untuk mendekatkan diriku kepada Allah, matahari yang terbit dihari itu tidak membawa keberkahan bagiku.”
“Orang yang paling berilmu ialah orang yang menguasai pengetahuan orang lain disamping pengetahuannya. Oarang yang paling berharga ialah yang paling banyak ilmunya dan yang paling rendah nilainya ialah paling sedikit ilmunya.”
“Apabila kematian menjemput penuntut ilmu yang sedang menuntut ilmu, ia meninggal sebagai seorang syahid.”
“Satu jam yang dilalui orang berilmu dengan berbaring di atas ranjang sambil merenungi pengetahuannya jauh lebih baik dari ibadah ahli selama 70 tahun. (Husaini, 2013 : 7, 8, 10, 11)
2.4 Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan   
            Manusia diciptakan dengan mengemban tugas sebagai khalifah Allah di bumi ia di karuniai kemampuan akal pikir yang membedakan dari bintang. Sudah sepantasnya bila akal pikir ini beriman kepada Khaliknya yaitu Tuhan, Allah Yang Maha Esa, yang telah menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. 
            Allah mengirim wahyu petunjuk untuk  mengaktifkan akal fikir manusia dan meluluskan imanya dan serta pedoman dalam beribadah melalui kitab-kirtab suci yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Didalam Al-Qur’an, manusia diperintahkan untuk mempelajari alam semesta secara ilmiah dan memanfaatkannya sebagai sarana ibadah serta pemenuhan bagi keperluan dan kesejahteraan hidupnya.
            Untuk maksud itu manusia diwajibkan menggunakan akal fikir dan iman secara tepadu sehingga dapat terhindar dari bahaya keangkara kemungkaran hawa nafsu dan kesakahan yang dapat menghancurkan dirinya sendiri.
            Perhatikanlah firman Allah berikut, QS. Ali-Imran 190-191



Artinya “sungguh didalam penciptaan segala langit dan bumi, dan dalam pergantian malam dan siang, terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir mendalam. Yaitu orang yang berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, dan duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berucap : “Wahai Tuhan kami. Tidak sia-sia Kau ciptakan semua ini. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”
            Dan perhatikan lagi Firmannya : QS. Yunus  101
 قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚوَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Artinya:“katakanlah, nalarilah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidaklah bermanfaat ayat-ayat itu dan peringatan-peringatan itu bagi orang-orang yang tidak beriman.“  
Ayat ini mengisyaratkan dan menganjurkan agar orang senantiasa melakukan penalaran yaitu menerapkan metode ilmiah untuk mempelajari alam semesta sekaligus menyatakan bahwa di alam semesta berlaku azas keterbukaan bagi penalaran. Azas ini sangat penting artinya bagi penembangan saints dan ilmu pengetahuan. (Alim, 1996 : 90,91)
            Tugas manusia di bumi ada dua yaitu : mengabdi atau beribadah dan merawat kemakmuran bumi . Demi suksesnya tugas yang pertama , ia harus berbekal Imtaq sedangkan untuk kesuksesan yang kedua harus berbekal Iptek. Ini berarti , untuk kelancaran tugas tersebut , Allah telah siapkan sarana dan prasarana  yang lengkap untuk segala profesi. Sebagai imbangannya , tugas kekhalifahaan bukan tugas gratis tanpa pertanungjawaban . Karena itu, tugas ini merupakan tugas yang berkelanjutan dan berkesinambungan; mulai dari menata, merawat, memanfaatkan dan melestarikan. Keseluruhan tugas yan berkelanjutan dan berkesinambungan tersebut diarakan untuk kemaslahatan umat (Fahrurrozi dkk,2010:1,2)
            Tanggung jawab ilmuan sebagai umat islam :
1.      Tangung jawab ilmiah, yaitu menetapi berbagai kaidah keilmuan
2.      Tanggung jawab pada diri sendiri ,menyadari bahwa menuntut ilmu adalah proses yang berlansung sepanjang ayat demi peningkatan kualitas pribadi yang semakin bijak dan takwa
3.      Tanggung jawab kepada masyarakat , bahwa ilmu yang dimiliki adalah untuk kemaslahatan bersama dan diwasiatkan kepada orang lain
4.      Tanggung jawab kepada negara , bahwa dengan ilmunya ia berusaha untuk ikut pembangunan bangsa dan negara
5.      Tanggung jawab kepada Allah , menyadari bahwa ilmu yang dimiliki adalah nikmat Allah dan diamalkan demi memperoleh ridho Allah.(Nasuka,2005:11)
Setelah mengetahui tanggung jawab ilmuan sebagai umat muslim terciptalah timbal balik yang baik , selain itu manusia harus menjaga, merawat, memanfaatkan dan melestarikan alam dan lingkungan. Sebab alam dan lingkungan inilah sumberdaya yang terbesar bagi para ilmuan dalam merealisasikan keilmuannya. Dengan alam dan lingkungan yang indah semua kehidupan yang dibumi dapat berjalan dengan baik dan teratur.     
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
1.      Ilmu pengetauan adalah kumpulan pengetahuan menenai suatu hal tertentu (objek/lapangan), yang merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan yang sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan dengan menunjukan sebab-sebab kejadian itu. Teknologi adalah penerapan sains secara sistematis untuk mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam suatu proses produktif ekonomis untuk meghasilakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia dan seni dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indak atau dihiasi dengan indah
2.      Iman adalah percaya kepada Allah dengan segala ciptaannya , karena Allah yang memberikan ilmu yang berguna. Ilmu yang berguna inilah yang membangkitkan manusia untuk menciptakan teknologi yang berguna membantu manusia dalam aktifitas sehari-hari. Dengan teknologi tersebut kita telah mengamalakan ilmu kita.
3.      Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu akan diangkat derajatnya beberapa derajat oleh Allah dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dan Allah Maha Mengetaui apa yang kamu kerjakan.
4.      Tanggung Jawab Ilmuan Terhadap Alam dan Lingkungan sebagai umat muslim terciptalah timbal balik yang baik , selain itu manusia harus menjaga, merawat, memanfaatkan dan melestarikan alam dan lingkungan. Sebab alam dan lingkungan inilah sumberdaya yang terbesar bagi para ilmuan dalam merealisasikan keilmuannya. Dengan alam dan lingkungan yang indah semua kehidupan yang dibumi dapat berjalan dengan baik dan teratur

1.2    Saran
Untuk memgembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kita sebagai manusia sebaiknya menjaga apa yang telah diberikan oleh Allah. Menjaga amanah sebagai khalifah dan selalu merawat alam dan lingkungan dibumi ini. Teknologi yang berkembang sekarang ini sebaiknya diarahkan kesesuatu yang positif dan berguna bagi manusia.



Daftar Pustaka
Achmad, Mudlor. 1994. Ilmu dan Keinginan Tahu Epistemologi dalam Filsafat. Bandung: Trigendi Karya  
Alim, Sahirul. 1996. Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi dan Islam. Yogyakarta: Titianilahi Press
Fahrururrozi, Aziz dan Erta Mahyudin. 2010. Fiqih Manajerial Aplikasi Nila-nilai Ibadah dan Kehidupan. Jakarta: Pustaka Al-Mawardi
Husaini, Said Husain. 2013. BerTuhan dalam Pusaran Zaman. Jakarta: Penerbit Citra
Madya dan Sidi Gazalba. 1998. Islam dan Kesenian Relevansi Islam dan Seni Budaya. Jakarta: Pustaka Al-Husna  
Nasuka. 2005. Teori Sistem Sebagai Salah Satu Alternatif Pendekatan dalam Ilmu-ilmu Agama Islam. Jakarta: Kencana
Sidik, Muhammad Ansorudin. 1995. Pengembagan Wawasan IPTEK Pondok Pesantren. Jakarta: PT. Bumi Aksara 
Zubair, Chairis. 1997. Etika Rekayasa Menutut Konsep Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 
Yusuf, Ali Anwar. 2006. Islam dan Sains Modern Sentuhan Islam terhadap Berbagai Disiplin Ilmu. Bandung: CV Pustaka Setia   

Anonymous. 2015. AL-qur’an. http://quran.com/2Surat Al-Baqarah. Diakses 29 April 2015

Mita. 2015. Iptek dan seni menurut pandangan islam. http://mitaunair-fk12.web.unair.ac.id. Di akses 29 April

Tidak ada komentar:

Posting Komentar